Aku Cinta Rohis

Pola rekrutmen teroris mudah versi Metro TV
Baru-baru ini kembali terjadi aksi teror di Indonesia tepatnya di Solo. Hal yang sangat disayangkan berbagai pihak ini kontan mengundang berbagai macam reaksi dari berbagai kalangan. Parahnya media secara blak-blakan menyebutkan asal muasal muculnya generasi teroris baru. Ya, Metro TV lagi-lagi berulah dengan opini tanpa tabayun.


Jujur, saya masuk rohis selama tiga tahun di SMA Negeri 1 Medan. Bahkan saya sempat menjadi amir di rohis SMA saya. Sebenarnya saya juga tidak terlalu kaget dengan mencuatnya opini asal-asalan karya Metro Tv ini. Karena saya benar-benar paham tentang apa yang tidak dipahami oleh orang-orang yang tidak mengenal rohis secara kaffah.


Kalau di rohis kami yang bernama BAKMISS (Badan Kemakmuran Musholla Ibnu Sina SMANSA), anggotanya adalah orang-orang yang memiliki berbagai macam penampilan. Tidak kontan yang ikhwan semuanya berjenggot, celana di atas mata kaki, jalan menunduk. Atau yang akhwat dengan jilbab besar, tidak mau menatap mata ikhwan, dan jalan selalu menunduk. Tidak. Tidak semua seperti itu. Bahkan di rohis kami tempat berbagai macam jenis anak SMA berkumpul. Ada yang preman tapi syahdu, suka ngeband, bandel di kelas, belum pakai jilbab, dan suka gosip. Ya, seperti anak SMA pada umumnya yang sedang mengalami masa-masa puber.

Tapi ketika semua berkumpul di dalam musholla, semua sifat-sifat tidak baik itu hilang seketika. Masing-masing kami melihat surga di wajah saudara-saudari kami. Hati kami senantiasa bergetar ketika asma Allah diperdengarkan. Dan semakin sering kami berkumpul, maka sifat-sifat tadi menyingkir dengan sendirinya.

Waktu dhuha musholla penuh. Waktu kajian musholla juga penuh. Terlebih waktu sholat fardhu. Indah sekali. Situasi yang tidak pernah saya dapatkan di kegiatan ekstrakulikuler lainnya.

Dulu, pertama kali saya masuk SMA, kebetulan ada sesi perkenalan rohis a.k.a Bakmiss. Kata-kata yang paling saya ingat saat itu adalah, "Organisasi mana lagi yang berguna untuk dunia dan akhirat selain Bakmiss wahai adik-adikku?"

Ya, di sini kami mendapatkan ilmu-ilmu organisasi, manajemen waktu, dsb. Ilmu agama juga kami dapatkan dengan baik. Ustadz-ustadz pengisi materi sangat mengerti tentang masalah-masalah besar yang kami hadapi. Sebagian besar masalah cinta, pacaran. Maklum, masa-masa SMA adalah masa-masa yang rawan akan virus merah jambu.

Saat itu tidak pernah terbesit pikiran bahwa rohis menjadi wadah perekrutan teroris baru. Yang terbesit dipikiran kami adalah rohis adalah tempat kami berbagi ilmu dan menambah ilmu. Di rohis yang pintar banyak, yang lucu ada, yang ilmu agamanya di atas rata-rata ada, yang jago IT ada, yang jago nyanyi ada, yang jago design ada. Bakat-bakat pemimpin lahir di lingkungan rohis. Tidak heran jika saat itu ketua osis, ketua pasukan baris berbaris, petinggi pramuka dan organisasi-organisasi besar lainnya adalah anggota rohis. Karena anggota rohis memang pantas untuk menjadi panutan kala itu.

Dari dulu hingga sekarang, anggota rohis kami selalu memasuki universitas-universitas favorit. UI, ITB, STAN, UNDIP, IT TELKOM, USU, dll. Padahal kegiatan ekstrakulikulernya seabrek. Aktivis mushola sebutannya. Tapi kami diajari manajemen waktu. Sehingga amanah jalan, pelajaran juga tak ketinggalan.

Itulah rohis yang saya kenal. Bukan rohis yang seperti diutarakan oleh Metro TV baru-baru ini. Memang benar, para teroris yang ditangkap itu berbalut kata-kata jihad. Berjenggot, celana di atas mata kaki, mengenakan lobe. Tapi hal yang perlu kita ketahui adalah, rohis itu bukan semata-mata penampilan. Tapi hati. Ya, hati yang lembut yang mengajak kepada kebaikan, yang menyerukan dakwah. Yang jika kita berbicara kepadanya, kita merasa aman dan tentram. Bukan takut bahkan menjauh.

Saya yakin, setelah ini, banyak orangtua yang langsung melarang anak-anaknya untuk masuk rohis. Guru-guru juga pasti memberikan lampu kuning bagi kegiatan-kegiatan rohis. Karena memang ini pernah terjadi beberapa waktu lalu di rohis SMA saya. Mentoring dihentikan untuk sementara dan kajian ditiadakan. Bahkan guru agama tidak bisa berbuat apa-apa karena kepala sekolah yang tidak paham tentang rohis seutuhnya. Padahal, semakin kegiatan rohis dihentikan, maka semakin ceteklah ilmu agama yang diterima murid. Itu artinya, murid-murid semakin mudah didoktrin hal-hal yang berbau terorisme. Berarti, langkah inilah sebenarnya yang diinginkan para teroris laknatullah.

Masih banyak orang-orang benar di negeri ini. Dan orang-orang benar itu pasti lahir dari rohis atau setidaknya dekat dengan rohis. Jadi bagaimana mungkin rohis menjadi sumber teroris? Pertanyaan yang jawabannya perlu kita pikirkan bersama.

0 comments:

Silakan dikomentari ya. Klik subscribe by email untuk notifikasi balasan. Terimakasih.