Mengendus Perfilman Indonesia

Jika diteliusuri, kita akan melihat pasang surut dan lika-liku eksistensi dunia perfilman Indonesia. Di era 80-an, film Indonesia berhasil merajai bioskop-bioskop lokal. Lihat saja Catatan si Boy, Blok M adalah contoh judul yang masih sangat familiar di telinga kita hingga tahun 90-an bahkan masih sering diputar di layar kaca saat musim liburan tiba. Namun era 90-an adalah saat-saat kritis bagi dunia perfilman Indonesia. Peminat tidak lagi sehebat era 80an dan sebelumnya. Mungkin karena film yang beredar sebagian besar berkutat dalam tema-tema “khusus orang dewasa”. Selain itu, terbukti dengan penghentian ajang penghargaan tertinggi bagi dunia perfilman Indonesia atau yang biasa kita kenal dengan Festival Film Indonesia (FFI) pada tahun 1992 hingga diadakan kembali tahun 2004.


Namun, kebangkitan terjadi setelah bioskop lokal di dominasi oleh film-film Holywood dan Hongkong. Di tahun 2000, Riri Riza dan Mira Lesmana berhasil mendongkrak perhatian pecinta film dengan menghadirkan Petualangan Sherina. Sebuah film musikal yang ditujukan untuk anak-anak ini berhasil menciptakan pemandangan baru di bioskop-bioskop lokal dengan antrian panjang yang berlangsung hingga sebulan lamanya. Ini merupakan tonggak awal kebangkitan perfilman Indonesia.

Di tengah maraknya film Petualangan Sherina yang hingga kini juga masih sering menghiasi layar kaca, mulai bermunculan film-film dengan debut yang tidak kalah saing. Sebut saja film Ada Apa Dengan Cinta (2002), Eiffel I’m in Love tahun (2003), Arisan (2003), Gie (2005), Jomblo (2005), Mendadak Dangdut (2006), Laskar Pelangi (2008) dan masih banyak lagi. Berlatang belakang itu semua, FFI pun kembali diadakan di tahun 2004. Film Indonesia seakan menemukan nyawanya yang telah lama terpendam.

Seiring perkembangan hebat ini, tragedi 90an sepertinya terulang kembali. Film-film bertajuk khusus dewasa hadir di kemas dengan genre horror. Pemeran-pemeran yang sengaja dipilih berdasarkan ukuran daya tarik tubuh menghiasi cover layar lebar. Adegan yang ditunjukkan seperti tidak patut dimainkan. Muncullah berbagai macam judul yang cukup menggelitik seperti Hantu Binal Jembatan Semanggi, Suster Keramas, Diperkosa Setan, Hantu Puncak datang Bulan, dan masih banyak lagi. Inilah yang kian membuat masyarakat menklaim kualitas film Indonesia masih jauh dari sempurna. Ditambah dengan beberapa film yang menuai protes di kalangan tokoh agama maupun politik. Ini membuktikan bahwa film Indonesia yang bergenre “horror dan khusus dewasa” apalagi gabungannya sama sekali tidak pantas untuk dilanjutkan.
Ketidakpekaan akan realita inilah yang menimbulkan posisi film Indonesia mulai tersaingi dengan film-film asing. Film barat yang memiliki kualitas tinggi dan nyaris sempurna sudah menjadi tontonan sehari-hari para pecinta film di Indonesia. Terbukti dengan aksi protes dan kecaman yang dilontarkan masyarakat terkait isu pemblokiran film impor beberapa waktu lalu.

Jika kita mengulas perkembangan perfilman Indonesia dari tahun 1957 hingga sekarang, kita akan bertemu pada satu titik bernama “genre”. Ya, genre adalah jenis, gaya atau tipe dari suatu film. Setiap negara biasanya memiliki kekuatan dan kekhasan dalam hal genre film. Italia misalnya. Negara ini dikenal menghasilkan film bergenre jagal atau slasher. Untuk genre Action, Horror, dan drama kebanyakan masih mengacu kepada Amerika dan Inggris.

Tidak harus menghabiskan dana sebanyak Rp 2,65 Triliun seperti film Quantum of Solace atau Rp 2,30 Triliun untuk film The Cronicles of Narnia, Indonesia sebenarnya bisa meraih prestasi tingkat International dalam hal perfilman. Lihat saja Prestasi yang diukir Riri Riza dengan film Tiga Hari Untuk Selamanya yang berhasil meraih juara sutradara terbaik di Festival Film Belgia di tahun 2008 lalu. Tidak Hanya itu, pemeran film Opera Jawa, Artika Sari Devi dan film dokumenter laying Between Elephants juga berhasil meraih prestasi di ajang yang sama. Ini membuktikan bahwa sebenarnya dunia perfilman Indonesia memiliki kualitas di mata International.

Ada hal yang harus kita perhatikan dalam membenahi kancah perfilman Indonesia. Karakter. Ya, dengan mengembangkan karakter yang kita kuasai, maka film Indonesia akan melejit di pasaran. Sepanjang ini, film Indonesia sangat bergengsi di bidang drama. Baik musikal, komedi maupun religi. Lihat saja film berkualitas seperti Pasir Berbisik, Sang Pemimpi, Naga Bonar, Ayat-ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih, Dalam Mihrab Cinta, dan lain sebagainya. Film-film tersebut mampu menyampaikan pesan positifnya kepada penonton. Tentu adegan yang ditampilkan selalu dalam koridor budaya ketimuran yang terkenal santun dan religius. Di sinilah kekuatan kita. Dengan mengusung genre film “drama ketimuran”, maka tujuan pengadaan film telah kita dapatkan yaitu mempengaruhi penonton ke arah yang lebih baik.

0 comments:

Silakan dikomentari ya. Klik subscribe by email untuk notifikasi balasan. Terimakasih.