Belajarlah dari Semut!

Ada sedikit kejadian yang membuatku berdecak kagum sampai saat ini. Sebuah tragedi kecil yang mengantarkan aku berpikir lebih jauh lagi tentang "seberapa setiakah aku terhadap saudara-saudaraku?"

Ok, begini ceritanya. Berawal dari perintah ibuku untuk membeli madu, aku pergi ke swalayan untuk mencari sebotol cairan yang mengandung berbagai jenis khasiat ini. Sambil mengeluarkan kocek beberapa puluh ribu aku pun membawa pulang botol madu ini pulang. Menurut beberapa literatur yang pernah ku baca, indikasi madu yang asli adalah "tidak disukai semut". Tapi entah itu relevan atau tidak, intinya maduku tetap suka dikerubungi semut walaupun sudah ku letakkan di tempat yang tertinggi.

Tidak kehabisan akal, aku mengambil piring plastik dan ku isi dengan sedikit air hingga membentuk seperti danau kecil. Dengan serta merta kuletakkan botol madu ini di tengah danau kecil itu dengan tujuan untuk menghindari kerubungan semut.

"Kalo udah kayak gini, gak bakal lagi dah dikerubungi semut-semut," gumamku dalam hati.

Satu hari ini berjalan lancar, tidak ada semut yang sampai di botol. Hanya ada beberapa semut yang menghampiri pinggiran piring seperti sedang meminum air danau kecil itu. Berhasil! pikirku. Namun tidak untuk keesokan harinya.

Percaya tidak percaya, semut-semut berhasil menggapai botol dan menikmati maduku. Bagaimana caranya? Apa mereka mampu menghabiskan air danau kecil itu? Sepertinya tidak mungkin. Kalo benar mereka yang menghabiskannya, pasti sudah kembung atau pipisnya ke mana-mana.hehehe.. Tapi beginilah caranya.

Dengan pengorbanan yang super, beberapa semut mungkin puluhan bahkan ratusan rela menenggelamkan diri ke air danau tadi. Tapi bukan sembarang menenggelamkan diri dan mati. Mereka menenggelamkan diri dengan membentuk satu garis menuju botol madu. Lalu apa gunanya? Jelas ini sebagai JEMBATAN menuju botol madu bagi semut-semut yang lain.

Terus terang aku sangat tersindir dengan kejadian ini. Sejenak aku berpikir, betapa setia kawan semut-semut itu. Bahkan nyawa pun dikorbankan demi keberlangsungan hidup semut-semut yang lain. Terlepas dari keikhslasan semut-semut yang mati itu, tapi bisa kita ambil kekuatan positif dari ukhuwah yang terjalin sesama semut. Pertanyaannya, adakah kita memiliki rasa kesetiakawanan seperti semut? Jangankan nyawa, bahkan waktupun kita enggan memberikannya.

Mudah-mudahan ini bisa kita jadikan pelajaran untuk terus menjaga ukhuwah dan persaudaraan kita. Tidak hanya sekedar di mulut, namun juga di hati hingga mampu kita realisasikan menuju suatu dekapan ukhuwah yang sempurna.

5 komentar:

  1. kalo aku adalah kebiasaan semut yg selalu berciuman dengan semua semut yang ditemuinya. emang sih kita ga harus ikut ciumana dengan siapapun orang yg kita temui, tapi makin lama kok keramahan manusia dengan sesama makin kurang?

    BalasHapus
  2. subhanallaaah..... dari semut yang kecil imut imut pun kita bisa belajar dan memetik hikmah....

    BalasHapus
  3. Glek! Asli terhenyak membaca artikel ini.. Membuat ukhuwah menjadi semanis madu adalah keniscayaan, jika kita menilik dan mengulik hikmah dari hewan yang tertera namanya di dalam Al-Qur'anul Kariim, Surat An-Naml.. Shodaqollahul 'adhim...

    BalasHapus
  4. Subhanallah.. tersentuh sekali..

    BalasHapus

Silakan dikomentari ya. Klik subscribe by email untuk notifikasi balasan. Terimakasih.