Homoseksual itu Penyakit Fisik dan Hati

Nau'dzubillahimindzalik. Telah tampak jelas kerusakan-kerusakan moral dan akhlak di muka bumi ini. Ada beberapa yang sangat membuat hati kita miris bahkan saat mendengarnya. Suatu kegiatan yang tak lazim dan pantas. Yang tak pernah diajarkan, tapi malah semakin ramai penikmatnya. Yah itu lah masalah homoseksual/liwath/maho/lesbi/gay yang saya pribadi lebih suka menyebutnya sebagai penyakit.

Jika kita tau bahwa Belanda adalah negara yang membolehkan pernikahan sesama jenis, maka sekarang pengetahuan kita akan bertambah. Baru-baru ini suatu kota besar di Amerika, California telah resmi membatalkan larangan pernikahan antara sesama jenis kelamin.

Dengan mengedepankan hak azasi manusia, para pengaku pahlawan sipil itu berteriak menyuarakan kebodohannya. Membela mati-matian perubahan hukum atas larangan pernikahan sesama jenis. Tanpa memikirkan bahwa semua akan dipertanggungjawabkan di suatu hari yang kekal nanti.

sebenarnya hal ini bukanlah kali pertama yang terjadi. Bahkan sebelum zaman baginda Rasulullah saw, telah ada umat nabi Luth as. yang melakukan hal serupa. Dengan jelas Allah berfirman dalam surat Al-A'rof ; 80-81

Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelummu?" Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas.

Pantaskah kita menjadi kaum yang melampaui batas? Sedangkan seorang Rasul saja selalu takut akan larangan Allah. Mengapa kita yang hanya umatnya seakan menentang kebenaran yang datangnya dari pencipta alam semesta.

Yang parahnya lagi, aksi ini diperkuat oleh aplikasi kegiatan di masyarakat. Media elektronik ataupun cetak menyorotinya dengan terlalu berlebihan. Adegan maupun tulisan yang ditampilkan seakan mengajak kita untuk melakukannya. Seakan membuat kita berpikir itu adalah fitrah manusia. Namun sesungguhnya itu adalah penyakit. Ya, penyakit yang bisa disembuhkan.

Yang terpenting adalah kita harus menentang dan membuang jauh-jauh penyakit ini. Tapi ingat yang dibuang adalah penyakitnya bukan pengidapnya. Mari selamatkan mereka dengan cara terbaik yang ada. Tentunya dengan senantiasa selalu dekat kepada Allah.

wallahu'alam bi showab.

8 komentar:

  1. Sudah jelas2 allah menciptakan manusi saling berpasangan pria dan wanita...kenapa harus mengubh kodrat dri allah dosa lah yg di dpatnya...ane setuju kang penyakitnya yg hrus kita musnah kan pengidapnya tetap lah mahkluk allah..met malam n met beristirahat kang

    BalasHapus
  2. Dunia emang makin aneh dan ribet

    BalasHapus
  3. dunia ini semakin tua dan semakin mendekati kiamat terlihat jelas tanda² kehancurannya
    Sukses Slalu!

    BalasHapus
  4. Jika manusia hanya mengedepankan nafsu semata, mereka tak lagi peduli akan larangan Allah. Semoga saja kita terhindar dari perbuatan tsb. Amin.

    BalasHapus
  5. hiiiii
    gak habis pikir deh ama kum" homo ituh
    lha wong perempuan aja banyak yang cantik kok jatuh"nya ke laki" juga
    parahhh dahhhhh

    BalasHapus
  6. terimakasih artikelnya mas,, yah memang kalau kita lihat sekarang ini kegiatan homoseksual pada sebagian kalangan masyarakat bahkan sudah menjadi gaya hidup, dan katanya kelainan ini juga bisa menular lho..
    oh ya, jika berkenan saya mau tukeran link dengan blog ini. link 'Saidialhady' sudah terpajang di blog saya. salam kenal

    BalasHapus
  7. bener banget sob...kita telah diciptakan berpasang-pasangan dan dengan lawan jenis yg jelas-jelas berbeda...!!!

    Logikanya aja...manusia pasti menciptakan hal yg berpasangan yg selalu beda...contoh aja sepatu sama sandal kita, g ada yg kiri semua ato kanan semua...!!!! itu baru dari contoh plg sdrhana..!!!

    ya semoga Allah swt selalu melindungi kita, dan semoga dibulan yg baik ini kita bisa menjadi manusia yg beriman...Amminnnn

    BalasHapus

Silakan dikomentari ya. Klik subscribe by email untuk notifikasi balasan. Terimakasih.