Senyum Sutra (2)

Terik matahari pun tak lagi terasa ditubuhku. Seperti sudah dibius dengan obat tahan panas, aku pun terus bermain dengan mereka. Faisal, Rio dan Rina adalah sahabat yang sama baiknya dengan Nia. Mereka tak seperti kelihatannya. Walau tampak tak bersahabat, ternyata mereka sangat perhatian. Ketika aku berkenalan dengan mereka, aku diserbu dengan pertanyaan-pertanyaan mengapa aku menangis. Kuceritakan semua dengan sedikit rasa malu. Tapi mereka hanya tersenyum maklum, dan mengalihkan kesedihanku dengan permainan patok lele. Permainan ini sangat terkenal di medan, kota kelahiranku. Hanya dengan kayu, kita sudah bisa bermain sambil terkekeh-kekeh. Aku pun berlari menghindari lemparan kayu. Argh! akhirnya aku kena. Sekarang giliranku untuk memukul. Taak sesuai perkiraan, mereka sangat ahli menghindar dari pukulanku. Tak tahu apakah memang pukulanku yang tak pernah tepat sasaran atau tidak. Tak apalah, yang penting aku senang dengan permainan ini.

Akhirnya keringat membasahi baju kami semua. Aroma tak sedap pun mulai mengunjungi hidung kami satu persatu. Kami tertawa lepas sambil mengolok satu sama lain. Kami berlari kecil menuju rumah masing-masing. "Kawan, besok kita main lagi ya! Lihat aja, besok pasti bukan aku lagi yang kena!" Mereka pun tertawa melihat aku yang sangat riang bermain hingga senja pun hadir.

Nia, Rio, Faisal, dan Rina sudah mengiringiku pada masa kanak-kanak yang indah. Mulai hari ini, aku punya teman baru, semangat baru.

***

Ibu adalah sosok yang sangat setia. Bayangkan saja, semenjak 4 tahun ditinggal ayah, beliau tak pernah mengeluh akan kerja kerasnya menghidupi kami. Ibu ku hanyalah seorang guru SD Negeri di Medan. Gajinya hanya 800 rb perbulan. Sangat tidak layak untuk menghidupi 2 orang anaknya. Pernah aku menanyakan tentang hal ini. Namun ibu dengan lembut menjawab, "Nak, tak perlu kau khawatirkan gaji ibu. Rezeki sudah ada yang mengatur. Dia lah Allah yang esa. Sekarang ambil buku, kerjakanlah PR mu!" Jawaban yang menenangkan hatiku, juga hati Ibu.

Ketika aku masih SD, Ibu lah yang menyuci dan menyetrika seluruh pakaian ku. Sepulang mengajar, ia langsung memasak makan siang kami. Setelah itu ia membiarkan kami makan lebih dulu. Ibu selalu mendahulukan kami. Ia rela menahan laparnya sampai kami berdua kenyang. Setelah kami makan, aku dan kakak pun menyediakan sepiring nasi lengkap dengan lauk untuk Ibu. Terkadang ibu menangis. Aku tak tahu mengapa ia menangis, Mungkin terharu melihat kami yang lugu memberinya sepiring nasi masakannya sendiri.

3 komentar:

  1. huaaaaaaaaaa. kurang panjang. masi ada lanjutannya kak ?

    BalasHapus
  2. @VIIRARA`s story
    ia, insyaAllah masih ada. tadi dah kk edit dikit tuh..

    BalasHapus

Silakan dikomentari ya. Klik subscribe by email untuk notifikasi balasan. Terimakasih.