Senyum Sutra (1)

Seorang anak kecil perempuan itu berhenti meninggalkan teman-temannya. Ia kembali menatap seseorang yang sedang jongkok di sudut jalan sambil menangis seperti meminta untuk diajak bermain. Itulah Aku. Umurku kira-kira 1-2 tahun lebih tua darinya. Aku pun mulai menyeka air mata untuk melihat bocah perempuan itu dengan jelas. "Faruq, ayo main bareng kita! Ngapain di situ? Ntar digigit ulet lo." Suara yang tidak asing bagiku. Sepertinya aku mengenalnya. Ya, dia adalah Nia. Anak tetangga rumah baru ku. Waku itu, keluarga Nia lah yang pertama sekali menyapa Ibu ku ketika melihat kondisi rumah ku yang sekarang. Mereka sangat ramah. Itu terlihat dari anaknya Nia yang sepertinya selalu di ajarkan sopan santun. Ketika melihat aku sedang bingung melihat-lihat isi rumah yang kosong, Nia langsung mendekati ku. "Hai, namaku Nia. Aku yang tinggal di depan rumah ini lo. Nama kamu siapa?" Aku yang jarang bergaul ini langsung kaget setelah mendengar perkataan Nia. Sepertinya kami sudah kenal lama hingga ia bisa dengan mudah menyapa ku. "Aku faruq". Ya, hanya itulah yang bisa ku katakan. Aku begitu malu sampai-sampai tak bisa melanjutkan kata-kata ku. Untung aku masih bisa mengingat namaku. Jika tidak, pasti akan jadi bahan tertawaan ibu dan kakak ku sepulang nanti.

Akhirnya Ibu memantapkan hati memilih rumah ini untuk tempat tinggal kami selama 2 tahun ke depan. Mungkin sampai aku selesai sekolah dasar, barulah Ibu memikirkan rumah mana lagi yang akan kami tempati. Sejak ayah ku meninggal, Ibu kerja keras menghidupi kami berdua. Kakak ku yang kini sudah duduk di bangku SMP kelas 3, selalu berkata,"Faruq, jangan lupa pesan Ayah, kita harus menjaga Ibu kita. Ibu lah yang melahirkan kita. Kita sebagai anak laki-lakinya harus bisa membanggakan Ibu. Jangan pernah kecewakan beliau." Setiap mendengar kalimat itu, aku selalu terenyuh. Aku tak tega melihat Ibu mengeluarkan keringat yang lebih demi mewujudkan keinginan ku. Tapi kali ini aku memang benar-benar ingin mobil-mobilan itu. Ibu sampai memarahi ku karena aku tak henti-hentinya merengek meminta dibelikan. Aku pun menangis sambil menuju ke tepi jalan kecil depan rumah. Beruntung ada Nia yang mau menghiburku. Ia mengajak ku bermain dengan teman-temannya. Aku dikenalkan oleh Faisal, Rio dan Rina. Ya, itulah Nia yang tak pernah bisa membiarkan orang lain sedih sementara ia bersenang-senang. Aku beruntung bisa mengenalnya. Bocah perempuan yang punya suara lembut bagai sutra, lisan yang halus bagai kapas eropa, serta senyum indah yang tak bisa terungkap dengan kata-kata.

3 komentar:

Silakan dikomentari ya. Klik subscribe by email untuk notifikasi balasan. Terimakasih.