Yang Tegar di Jalan Jomblo

Saya kira tidak banyak saudara saya yang masih berada di posisi jomblo alias single status (meminjam bahasanya “aktifis” facebook). Tapi di antara jombloers, tidak banyak pula yang mampu ‘tegar’ berada di jalan jomblo. ‘Tegar’ yang saya maksudkan disini adalah kondisi insan yang tetap tegak di atas jalanNya, menjaga rambu-rambuNya, terlebih ketika mereka dalam posisi “jomblo”. Saya ungkapkan demikian, karena lingkungan sekeliling saya memberikan gambaran bahwa ternyata adab bangsa kita sebagai bangsa timur sudah mulai bergeser. Satu demi satu norma mulai ditinggalkan oleh segelintir orang yang menjunjung budaya hedonisme-materialisme dalam kehidupan mereka.

Kalau di zaman doeloe (dengar cerita dari seorang sepuh) seorang ayah atau ibu akan sangat malu ketika melihat anaknya jalan berduaan dengan bukan mahramnya. Sayangnya, kenyataan yang kita temui sekarang, beberapa orang tua malah “bangga” kalau anaknya digandeng dengan orang yang bukan mahramnya. Bahkan yang lebih miris lagi, ketika mereka sangat khawatir kalau sampai anaknya belum punya gandengan di usia muda mereka. Budaya barat yang diadopsi oleh sebagian kaum muda telah menjadikan mereka jauh dari adat bangsanya, dan jauh dari nilai-nilai agamanya. Sedih dan miris melihat kenyataan yang ada.

Di sisi lain, adalah tidak mudah untuk tetap ‘tegar’ di atas syari’atNya dalam keadaan jomblo. Mudahnya akses informasi, beragamnya pergaulan dan semakin menurunnya kontrol orang tua menjadi beberapa sebab sehingga hanya sebagian saja pemuda/i yang mampu ‘tegar’ di jalan jomblo. Karena begitu beratnya tetap ‘tegar’ di atas jalan jomblo, ada beberapa tuntunan yang dapat memandu kita agar tetap ‘‘tegar’’ di jalan jomblo.

Pertama, membiasakan amal-amal shalih, khususnya puasa, baik itu puasa sunnah, apalagi puasa wajib. Sebagaimana disampaikan Rasul SAW

“Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu menikah, maka menikahlah. Karena menikah lebih dapat menahan pandangan dan lebih memelihara kemaluan. Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia berpuasa karena puasa dapat menekan syahwatnya (sebagai tameng).” (HR. Bukhari)

Membiasakan berpuasa sunnah adalah salah satu cara yang dapat kita lakukan untuk menekan syahwat, menjaga diri, dan membatasi gerak syaithan mempengaruhi diri kita. Dalam keadaan berpuasa, maka pembuluh darah manusia sebagai tempat masuknya syaithan akan semakin sempit sehingga jalan masuk syaithan menjadi lebih terbatas. Hal ini tentunya akan menjaga shaimin/at (orang yang berpuasa,red) dari perbuatan2 yang diharamkan oleh Allah SWT.

Kedua, mengisi aktifitas2 kita dengan hal2 yang bermanfaat. Banyak hal yang kita dapat lakukan untuk mengisi waktu luang kita seperti aktif di pengajian dan ta’lim, menjadi aktifis organisasi, penggiat di aktfitas olaharaga, penuntut ilmu, serta memanfaatkan waktu luang untuk bekerja mencari nafkah. Aktifitas-aktfitas yang padat itu tentunya akan mengalihkan perhatian jombloer dari perbuatan yang sia-sia atau bahkan terjerumus dalam kemaksiatan. Lain halnya, jika kita memiliki banyak waktu luang, tapi tidak kita manfaatkan dengan bijak, maka peluang tergelincir akan semakin mudah.

Ketiga, bergaul dengan orang-orang shalih atau mencari lingkungan yang baik. Tidak dapat dipungkiri lagi, kalau teman adalah salah satu faktor yang mempengaruhi pribadi kita. Hal ini juga telah diingatkan oleh Rasul SAW

“Perumpamaan teman yang shalih dengan yang buruk itu seperti penjual minyak wangi dan tukang pandai besi. Berteman dengan penjual minyak wangi akan membuatmu harum karena kamubisa membeli minyak wangi darinya atau sekurang-kurangnya mencium ban wanginya. Sementara berteman dengan pandai besi akan membakar badan dan bajumu atau kamu hanya akan mendapatkan bau tidak sedap“. (HR.Bukhari & Muslim).

Fitrah manusia memang cenderung ingin meniru tingkah laku dan kebiasaan temannya. Teman yang baik memberikan pembiasaan yang baik, dan teman yang buruk niscaya sedikit demi sedikit menularkan keburukannya pula. Teman merupakan cermin dari pribadi seseorang. Dengan kata lain, seseorang tidak akan jauh dari pribadi teman dekatnya.

“Orang itu mengikuti agama temannya, maka setiap orang hendaklah melihat siapa yang menjadi temannya ” (HR.Imam Ahmad, Abu Dawud, At Tirmidzi & Hakim).

Kita kadang melihat bagaimana seseorang memakai narkoba karena terpengaruh ajakan temannya. Atau seorang pemuda yang terjebak dalam kehidupan dan seks bebas karena pengaruh dari teman dekatnya serta contoh-contoh lainnya. Oleh karena itu, bijaklah dalam memilih teman pergaulan. Teman yang baik adalah teman yang mau dan mampu mengingatkan temannya untuk taat kepada Allah, berbuat amal2 kebaikan, dan menjaga temannya tidak terjerumus dalam kemaksiatan.

Demikianlah beberapa tuntunan agar seorang pemuda/i mampu ‘tegar’ berada di jalan jomblo, tegak dan istiqamah di atas syari’at Rabbnya.

Jomblo bukanlah sesuatu yang harus disesali dan membuat diri kita ‘malu’, tapi posisi jomblo adalah kesempatan beramal dan belajar serta berlatih sebelum amanah besar berikutnya dititipkan di pundak kita.

Ada nasihat seseorang yang perlu kita renungkan, “Saya jomblo bukan karena apa atau karena siapa, tapi saya jomblo karena Allah. Saya ingin menjaga diri saya hingga tiba saatnya kehalalan nyata bagi diri saya”.
Subhaanallaah wa baarakallaahu fiikum.

Wallahu a’lam.

Kota Daeng, 24 Dzulhijjah 1430 H
 
Oleh Fithratuddin (fithramacz@gmail.com)

0 comments:

Silakan dikomentari ya. Klik subscribe by email untuk notifikasi balasan. Terimakasih.