« »

Sabtu, 28 Agustus 2010

Akhirnya Aku Pulang Juga

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah memberiku kesempatan untuk kembali bertemu dengan keluarga yang sangat kucintai di rumah. Semua dalam keadaan sehat wal'afiat. Dan yang lebih senangnya lagi, anggota keluarga kami bertambah banyak dengan kehadiran Khanza Raahiil Alhaky. Yap, dia adalah anak pertama dari abangku. Sekarang sudah ada tiga anak di bawah umur di rumah orang tuaku ini.

Tiada hari tanpa tertawa melihat tingkah anak-anak kecil ini. Sungguh polos dan selalu berkata apa adanya. Tak pernah dibuat-buat semua apa yang mereka katakan. Semua yang dilihat langsung secara cepat direkam di otaknya dan dikeluarkan pada saat yang dirasanya tepat. Ini yang membuat kita sebagai orang dewasa untuk terus berhati-hati mengeluarkan tingkah yang mungkin tidak baik ditiru oleh anak-anak seukuran mereka.

Mama, papa, abang, dan kakak ku sehat semua. Setelah aku bertemu mereka, aku melihat senyum yang lama kunanti terbesit di wajah mereka. Yah, aku semangat belajar hanya untuk kembali pulang dan melihat senyum itu. Senyum yang mungkin menanti aku kembali membawa tas besar yang berisi segudang ilmu.

Untuk beberapa hari ini rasanya tak mau kaki ini melangkah untuk keluar rumah. Hati masih rindu setelah beberapa bulan tak melihat dan merasakan suasana hangatnya rumah ini. Mudah-mudahan ini cukup untuk menjadi bekal beberapa bulan ke depan ketika aku kembali lagi ke tanah perjuangan, kampus idola anak Akuntansi. Amin ya robbal 'alamin.
baca selengkapnya...

Senin, 16 Agustus 2010

Kita Baru Merdeka 65 Tahun

Kalo diibaratkan dengan umur manusia, kemerdekaan Indonesia sekarang sudah mendekati ajalnya. Sudah 65 tahun Indonesia mengenyam kata-kata "merdeka". Sudah selama itu pula kita "bebas" dari cambukan bangsa biadab yang dulu pernah menyiksa pahlawan dan orang tua kita. Namun betulkah kebebasan itu benar-benar kita peroleh secara menyeluruh?

Lagi-lagi kita harus mengerti apa makna merdeka sebenarnya. Benarkah merdeka sama dengan sejahtera? Atau mungkin merdeka itu adalah aman? Ketika kita bertanya tentang makna bebas kepada seorang anak TK, dia akan menjawab, bebas itu adalah ketika aku menggambar ikan tak ada yang mengharuskan aku membuat sisip yang banyak atau mata yang berjumlah dua. Tapi aku akan membuatkannya dua buah kaki agar bisa berjalan layaknya manusia.

Ya, makna kebebasan memang berbeda-beda dalam setiap tingkatan. Arti kemerdekaan bagi seorang pengamen pasti lebih riil dan tepat kesasaran daripada penjelasan seorang politikus yang lebih banyak menggunakan opininya sebagai pembangun bangsa. Arti kebebasan menurut pedagang kaki lima pasti akan lebih mengena daripada pengusaha yang dominan memantau nilai bunga pasar setiap harinya. Mengapa? Karena merekalah rakyat Indonesia yang menginginkan sejatinya kemerdekaan.

Secara bahasa, merdeka adalah bebas dari penjajahan atau bisa juga diartikan berdiri sendiri. Di saat rakyat Indonesia memaksa Soekarna-Hatta untuk memproklamirkan kemerdekaan. Nah pemaksaan itulah yang mengartikan bahwa kita sudah siap atau bahkan sangat siap untuk berdiri sendiri sebagai negara yang memiliki ribuan pulau ini. Dan kita telah tahu seberapa siap kita saat ini.

Jikalau di abad 20 kemerdekaan Indonesia selalu dikaitkan dengan kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan, maka di abad 21 kemerdekaan sudah diartikan sebagai bentuk perjuangan melawan korupsi, tindakan anarkis, ekstrisme dan terorisme. Ini membuat rakyat kecil hanya bisa mengunyah nasi mereka yang keras tanpa mampu bicara apa-apa.

Jika kita telaah, permasalahan-permasalahan yang kita hadapi kini seperti luapan rasa penyesalan atas kemerdekaan kita. Tindakan yang dilakukan merusak fasilitas negara ini. Tak hanya rusak secara fisik, namun kerusakan itu seperti telah nampak di setiap perilaku pemegang kekuasaan negara ini.

Sebenarnya kita telah diberitahu dalam Al-qur'an atas solusi dari permasalahan yang tengah kita hadapi. Allah berfirman di pertengahan surat Ar-rod ayat 11, Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.

Jika kita mau merubah bansa kita ini, maka kita akan berubah. Dengan mengedepankan keyakinan kita kepada Tuhan yang Maha Kuasa, maka yakinlah bahwa perubahan menuju sejatinya kemerdekaan akan kita dapatkan. Satukan niat kita, sebarkan kebaikan. InsyaAllah kita akan menjadi negara yang aman, makmur dan sejahtera.

Jangan pernah menyesal menjadi rakyat Indonesia. Jangan sia-siakan perjuangan para pahlawan yang telah mendahului kita. Jangan kita biarkan mereka menangis di alam sana. Sudah cukup darah mereka yang tumpah demi masa depan bangsa. Kita adalah generasi yang diharapkannya.
baca selengkapnya...

Selasa, 10 Agustus 2010

Puasa??? Apaan tuh!! (Masuk gan!!)

"Ramadhan telah tiba marilah menyambutnya dengan semangat menggebu yang kaffah"

Alhamdulillah, sebentar lagi kita semua akan menjalani bulan penuh berkah dan ampunan, Ramadhan. Kalo diitung-itung ni nikmat Allah ama kita, gak bakal sanggup deh. Makanya gak usah diitung-itung tapi dirasakan, dinikmati plus yang paling penting disyukuri. Apalagi dah deket ama bulan puasa. Kudu nyiapin mental yang mantep supaya bulan Ramadhan ini gak lewat gitu aja.

Kalo kita perhatikan di sekililing kita, banyak banget yang udah berubah semenjak (akan) masuknya bulan suci Ramadhan ini. Contoh yang paling deket nih, sinetron udah pada ganti cerita semua. Dari yang bintangnya gak pake jilbab, sekarang udah pake. Dari yang gak pernah-pernahnya nunjukin mesjid di dalam ceritanya, sekarang udah syuting dalam mesjid. Trus gak cuma di dunia pertelevisian aja. Di dunia kuliner juga pada heboh buat nyambut bulan Ramadhan. Tersajilah menu-menu berbuka yang ajib bin lezat. Ada pula juz kurma campur terong belanda. Katanya sih karena bulan puasa bulan mempererat ukhuwah, Belanda ama Arab digabungin tu supaya kece. Aya-aya wae.

Tapi sebenarnya mereka-mereka yang pada sibuk itu, pada tau gak makna puasa yang sebenarnya? Gak usah jauh-jauh deh, apa kita semua udah paham tentang puasa yang sebenarnya sesuai ajaran Islam? Yah, tulisan ini insyaAllah bakal membantu kita untuk memahami sejatinya puasa itu seperti apa.

"Ok, yang pertama siapa tahu pengertian puasa?"

"Saya bu!" teriak seorang anak SD pas ditanya ama gurunya.

"yak Fulan, silakan dijawab!"

"Puasa itu gak makan gak minum ampe azan maghrib bu," katanya polos.

"Hmmmm... ada jawaban lain?" kata ibu guru kepada seluruh muridnya.

*hening*

"Baiklah, sebenarnya yang dikatakan si Fulan itu gak salah. Cuma kurang lengkap aja. Puasa itu adalah menahan diri dari makan dan minum serta melakukan perkara-perkara yang boleh membatalkan puasa mulai dari terbit fajar sehingga terbenamnya matahari."

*bengong*

"Jadi gak cuma gak makan dan minum aja Fulan, tapi juga menahan diri dari yang membatalkannya."

Fulanah mengacung dan bertanya, "Trus selain makan dan minum yang ngebatalin puasa apa dong bu?"

"Pertanyaan bagus Fulanah. Nah yang membatalkan puasa selain itu antara lain, memasukkan sesuatu ke dalam rongga badan, muntah dengan sengaja, melakukan hubungan suami istri dan mengeluarkan air mani dengan sengaja, kedatangan haid atau nifas, melahirkan anak atau keguguran, gila walaupun sekejap, mMabuk ataupun pingsan sepanjang hari, murtad atau keluar daripada agama Islam."

*tambah bengong*

Belagak ngerti si Fulan kembali bertanya, "Trus yang diharuskan untuk puasa siapa aja sih bu? Soalnya adek saya yang umur 2 tahun kok gak ikutan puasa?"

"Kalo yang diwajibkan berpuasa itu juga ada kriterianya. Yaitu Beragama Islam, Baligh (telah mencapai umur dewasa), Berakal, Berupaya untuk mengerjakannya, Sehat, dan Tidak musafir. Sebenarnya tanda baligh dalam islam itu setelah adanya mimpi dewasa. Kamu akan merasakannya nanti. Perkara kamu udah puasa, itu untuk melatih kamu supaya gak kaget ketika harus puasa saat dewasa nanti."

"Kalo syarat sah puasa ada yang tau gak?"

*karena gak ada yang jawab si Ibu menjawabnya sendiri*

"Syarat sah puasa itu ada empat. Yaitu islam, berakal, Suci dari haid dan nifas sepanjang hari, dan dilaksanakan pada waktunya" (ulama Syafi'iyah)

"Ok, sekarang ibu tanya, siapa yang tau rukun puasa?"

Yang ngacung cuma si Fulan dan Fulanah. "Ok Fulan, silakan jawab, Emm..mm.. Fulanah aja deh bu!"

"Ya udah Fulanah, silakan."

"Niat dan meninggalkan sesuatu yang membatalkan puasa mulai terbit fajar sehingga masuk matahari."

"100 buat kamu. Nah, kayaknya udah pada ngerti semua nih. Berarti saatnya kita ujian kenaikan kelas."

*semua murid semakin bengong*

Nah, udah pada paham kan tentang dasar-dasar berpuasa. Ternyata percakapan antara guru dan murid SD di atas bisa memperluas pemahaman kita terhadap puasa. Tapi kayaknya ada yang kurang nih. Sebenarnya esensi puasa itu apa ya?

Secara gamblang Allah udah ngasi tau kita bahwa puasa itu untuk meningkatkan ketaqwaan kepada Allah swt.

"Hai orang-orang yang beriman, berpuasalah kamu sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa. Dan kalau kalian puasa itu lebih baik bagi kalian kalau kalian mengetahuinya." (Q.S 2 ; 183-184)

Selain untuk menambah ketaqwaan kita kepada Allah swt, Allah juga menambahkan sebuah kiasan di ayat 184 bahwa puasa itu lebih baik jika kita mengetahuinya.

Rasullullah juga telah menjelaskan tentang faedah puasa bagi umat muslim.

"Tidaklah ada seorang hamba yang puasa di jalan Allah kecuali akan Allah jauhkan dia (karena puasanya) dari neraka sejauh tujuh puluh musim ".

"Puasa adalah perisai, seorang hamba berperisai dengannya dari api neraka"

"Barang siapa yang berpuasa sehari di jalan Allah maka diantara dia dan neraka ada parit yang luasnya seperti antara langit dengan bumi"


Bahkan nih, bau mulut orang yang berpuasa itu di sisi Allah lebih wangi dari minyak misk. Minyak misk itu adalah minyak wangi termahal di dunia ketika zaman Rasulullah saw. Keren gak?

Nah, itu kan dari sisi Ruhiyah. Terus kalo dari sisi Kesehatan ada gak?

Hmm..mm.. Alhamdulillah. Memang suatu yang diperintahkan Allah itu selalu ada manfaat dari setiap sudut pandang. Kalo dari kesehatan, banyak banget manfaatnya.

Puasa bisa membantu badan dalam membuang sel-sel yang udah rusak, sekaligus sel-sel atau hormon ataupun zat-zat yang melebihi jumlah yang dibutuhkan tubuh. Trus puasa itu kan rata-rata 14 jam, kemudian baru makan untuk durasi waktu beberapa jam. Ini metode yang bagus banget untuk sistem pembuangan sel-sel atau hormon yang rusak dan membangun kembali badan dengan sel-sel baru. Dan ini sangat berbeda dengan apa yang dipahami kebanyakan orang bahwa puasa menyebabkan orang menjadi lemah dan lesu.

Gak cuma itu aja. Puasa juga mencegah dari tumor, menjaga kadar gula dalam darah, mengobati penyakit kulit, mencegah pembekuan jantung dan otak, menjaga sakit persendian tulang plus jadi dokter yang paling murah bagi diri kita. Yang pasti semua ada penjelasan secara medisnya kok.

Jadi gak ada lagi alasan puasa itu cuma buat badan lemes, letih dan lunglai. Puasa itu sehat lo!

Hufft... setelah panjang lebar ngomongin masalah syarat sah dan wajib puasa, rukun puasa, yang membatalkan puasa, manfaat puasa, sepertinya kita gak sabaran ya untuk menyambut bulan Ramadhan ini. Ibarat petani yang gak sabaran menunggu waktu panen, kita juga sangat rindu dengan ladang pahala yang tersedia di bulan Ramadhan ini.

Ok, InsyaAllah tulisan selanjutnya akan menjelaskan tentang keutamaan Bulan Ramadhon. Ditunggu yah!

Wallahu'alam bi showab

nb : dari berbagai sumber. InsyaAllah hadist yang dipaparkan shohih.
baca selengkapnya...

Kamis, 05 Agustus 2010

Homoseksual itu Penyakit Fisik dan Hati

Nau'dzubillahimindzalik. Telah tampak jelas kerusakan-kerusakan moral dan akhlak di muka bumi ini. Ada beberapa yang sangat membuat hati kita miris bahkan saat mendengarnya. Suatu kegiatan yang tak lazim dan pantas. Yang tak pernah diajarkan, tapi malah semakin ramai penikmatnya. Yah itu lah masalah homoseksual/liwath/maho/lesbi/gay yang saya pribadi lebih suka menyebutnya sebagai penyakit.

Jika kita tau bahwa Belanda adalah negara yang membolehkan pernikahan sesama jenis, maka sekarang pengetahuan kita akan bertambah. Baru-baru ini suatu kota besar di Amerika, California telah resmi membatalkan larangan pernikahan antara sesama jenis kelamin.

Dengan mengedepankan hak azasi manusia, para pengaku pahlawan sipil itu berteriak menyuarakan kebodohannya. Membela mati-matian perubahan hukum atas larangan pernikahan sesama jenis. Tanpa memikirkan bahwa semua akan dipertanggungjawabkan di suatu hari yang kekal nanti.

sebenarnya hal ini bukanlah kali pertama yang terjadi. Bahkan sebelum zaman baginda Rasulullah saw, telah ada umat nabi Luth as. yang melakukan hal serupa. Dengan jelas Allah berfirman dalam surat Al-A'rof ; 80-81

Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelummu?" Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas.

Pantaskah kita menjadi kaum yang melampaui batas? Sedangkan seorang Rasul saja selalu takut akan larangan Allah. Mengapa kita yang hanya umatnya seakan menentang kebenaran yang datangnya dari pencipta alam semesta.

Yang parahnya lagi, aksi ini diperkuat oleh aplikasi kegiatan di masyarakat. Media elektronik ataupun cetak menyorotinya dengan terlalu berlebihan. Adegan maupun tulisan yang ditampilkan seakan mengajak kita untuk melakukannya. Seakan membuat kita berpikir itu adalah fitrah manusia. Namun sesungguhnya itu adalah penyakit. Ya, penyakit yang bisa disembuhkan.

Yang terpenting adalah kita harus menentang dan membuang jauh-jauh penyakit ini. Tapi ingat yang dibuang adalah penyakitnya bukan pengidapnya. Mari selamatkan mereka dengan cara terbaik yang ada. Tentunya dengan senantiasa selalu dekat kepada Allah.

wallahu'alam bi showab.
baca selengkapnya...

Minggu, 01 Agustus 2010

Apakah Hati Kita Sudah Sekeras Karang?

Sebagaimana kita tahu, bahwa karang mampu menenggelamkan sebuah kapal besar. Kerasnya karang menjadi satu faktor yang membuat nakoda kapal terus berhati-hati untuk tidak menyentuh, menggesek atau menabraknya. Mengapa? Ya, ini dikarenakan kerasnya zat itu bisa mengakibatkan hal yang cukup fatal.

Lalu bagaimana jika hati kita yang mengeras layaknya sebuah karang? Sungguh suatu hal yang patut kita hindari. Kerasnya hati akan mematikan rasa. Dan jika rasa telah mati, maka celakalah kita. Ketika orang-orang tergetar hatinya maka kita hanya merasakan hal-hal yang biasa saja. Ketika bulu kuduk orang lain berdiri, maka kita hanya bisa heran sambil bertanya mengapa. maukah kita mendapati kondisi demikian?

Kekhawatiran ini terbukti dengan terjadinya kisah pembunuhan di Indonesia yang semakin marak. Pembunuhan bukan lagi seperti hal yang haram, yang hina atau yang sangat dikecam. Tapi seakan pembunuhan itu adalah hal yang dianggap jalan keluar dari masalah yang ada. Betapa pendek dan kusutnya pikiran manusia.

Jika kita mau berpikir dan menganalogikan pada sebuah tanaman yang kita tanam, mungkin kita akan sadar akan makna hidup itu. Ketika kita menanam sebuah biji lalu kita menyiraminya hingga tumbuh, maka kita akan merasa sangat puas telah mampu merawatnya dengan baik. Namun tiba-tiba ada seseorang mencabut atau merusaknya dengan sengaja. Lalu apa yang kita rasakan sebagai orang yang telah merawat dan menyiraminya setiap pagi? Tentunya kita akan sedih dan marah.

Pada dasarnya yang mencipatakan dan menumbuhkan tanaman yang kita tanam tadi adalah Dia Yang Esa, Allah azza wa jalla. Walau begitu kita sudah merasa memiliki keseluruhannya. Nah, jika kita kembalikan kepada fittrah manusia akan arti hidup, ini akan sangat berdampak besar. Sesungguhnya yang berhak menghidupkan dan mematikan manusia hanyalah yang menciptakannya. Ya, Dialah penguasa akhir zaman.

Maka dari itu, pantaskah kita sebagai makhluk kecil dihadapanNya melakukan hal keji seperti itu?

“Dan barang siapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya adalah neraka jahanam, kekal ia di dalamnya, dn Allah murka kepadanya, dan mengutukinya, serta menyediakan azab yang besar baginya” (an-nisa 93)
baca selengkapnya...